Cara memperbaiki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) berdasarkan pengalaman orang dekat lentera kecil. Mohon maaf jika pengalaman cara memperbaiki data NUTPK ini tidak sependapat dengan pembaca, namun setidaknya pengalaman ini dapat menjadi sedikit gambaran jika ada permasalahan dengan NUPTK.

data NUPTKPenjaringan calon peserta sertifikasi guru tahun 2012 lalu, menyisakan pengalaman yang tak terlupakan bagi seorang guru sekolah dasar negeri ini, sebut saja namanya Ibu Sri. Hampir saja tidak terjaring pada seleksi peserta sertifikasi 2012 karena data yang salah di data NUPTK.

Ibu Sri merupakan lulusan PGSD angkatan pertama 1990 di Malang dan telah menamatkan S1 PGSD tahun 2011 melalui UT. SK penempatan tugas pertama di Madura tepatnya di kabupaten Pamekasan tahun 1993, bersama beberapa rekan lain se-angkatan PGSD 1990 Malang.

Apa yang terjadi di 2012? Rekan se-alumni Ibu Sri, PGSD 1990, tercantum di daftar calon peserta Sertifikasi 2012, sedangkan hanya Ibu Sri yang tidak. Padahal menurut persyaratan sertifikasi, yaitu: Masa Kerja, Usia, golongan serta pendidikan S1, sama dengan rekan Ibu Sri. Ternyata ada kesalahan data di NUPTK, yang masih mencantumkan, pendidikan D2, Golongan dan masa kerja. Data NUPTK belum ter-update masih yang lama, lantas, bagaimana cara memperbaiki NUPTK tersebut?

 

Cara Memperbaiki NUPTK

Melihat data calon peserta sertifikasi secara online, jelas Ibu Sri tidak tercantum yang termasuk calon daftar peserta sertifikasi 2012 karena persyaratan di data NUPTK yang tidak terpenuhi. Padahal Ibu Sri telah memiliki persyaratan tersebut, hanya saja data belum ter-update. Sesuai saran Kepala Sekolah, Ibu Sri dianjurkan menghadap ke kantor Dinas.

Keesokan hari, dengan ijin kepala sekolah, Ibu Sri bergegas menuju ke kantor Diknas Pamekasan untuk bertanya dan mengklarifikasi kesalahan data NUPTK. Oleh petugas bagian pendataan, Ibu Sri diminta membawa hasil melihat NUPTK online dan berkas asli serta photocopy data terbaru, dalam hal ini adalah: SK Pangkat dan pengangkatan serta Ijazah S1.

Kepala sekolah dengan bijaksana memberi ijin untuk mengurus memperbaiki NUPTK sampai tuntas karena menyangkut hak untuk memperoleh sertifikasi guru 2012. Setelah berhasil meng-“print” NUPTK online, serta membawa kelengkapan data yang diminta, esok hari kembali menghadap ke petugas di kantor Diknas. Setelah menyerahkan semua berkas, diminta menunggu beberapa hari untuk mengetahui hasilnya.

Sehari, dua hari, tiga hari, hasil NUPTK online tidak ada perubahan, dan Ibu Sri masih dinyatakan belum memenuhi syarat di data calon peserta sertifikasi. Rekan Ibu Sri menyarankan untuk menemui petugas tersebut di luar jam Diknas (di rumah) dengan membawa “sesuatu”. Hal ini sudah umum dan agar cepat diproses, demikian ujar beberapa rekan Ibu Sri. Namun Ibu Sri mempunyai prinsip dan tidak mengikuti saran tersebut. Kewajiban sudah dilakukan sebaik mungkin dan mencoba mengikuti aturan yang sebenarnya.

Hari ke empat, Ibu Sri kembali menghadap ke petugas di kantor Diknas, bukan di rumah karena ini merupakan dinas. “Sudah di-update, Bu.” Ujar petugas tersebut. “Belum ada perubahan, Pak.” Sahut Ibu Sri. “Silahkan dilihat, Pak. Saya juga membawa hasil print tadi malam,” lanjut Ibu Sri.

Petugas tersebut lantas membuka situs Kemendikbud untuk melihat hasil NUPTK online. Ternyata benar, hasil tidak berubah (atau mungkin belum diubah?) “Bapak mempunyai akses untuk meng-update data NUPTK, tolong diubah, Pak!” “Baik, Bu..” jawab petugas tersebut.

Dan Ibu Sri tidak beranjak dari tempat sampai petugas tersebut memperbaiki NUPTK secara online tersebut. Hak akses untuk meng-update data NUPTK secara online hanya dimiliki oleh petugas yang ditunjuk. “Sudah selesai. Bu”. Dan Ibu Sri hanya mengucapkan terima kasih tanpa memberi “sesuatu”. Dan merasa lega karena melihat langsung cara memperbaiki NUPTK secara online.

Malam hari, ketika membuka situs Kemendikbud untuk melihat data calon peserta sertifikasi guru 2012, nama Ibu Sri telah tercantum layak menerima dengan data NUPTK yang terbaru. Kini, Ibu Sri telah lulus UKA dan PLPG dengan baik, dan tahun 2013 ini tinggal menunggu pemberkasan untuk menerima sertifikasi guru.

Semoga pengalaman Ibu Sri seorang guru Sekolah Dasar Negeri dalam cara memperbaiki NUPTK dapat dijadikan pengalaman bagi yang lain, jika mengalami hal yang serupa. Kadang orang dapat melakukan jalan pintas karena tidak mau repot dan juga kadang ada oknum yang membuat “iklim” tidak wajar dalam urusan birokrasi.

Apalagi saat ini ada penjaringan calon peserta sertifikasi guru 2013 yang harus memenuhi persyaratan sesuai data NUPTK. Bisa saja data NUPTK salah dan mengakibatkan tidak lolosnya sertifikasi guru.