Hikmah Qurban Pada Hari Raya Idul Adha

Hikmah Qurban Pada Hari Raya Idul Adha – Betapa pentingnya usahanya mendekatkan diri ini (ber-qurban) sehingga dalam ajaran Islam menetapkan syariat qurban, dalam bentuk penyembelihan hewan kurban satu tahun sekali, kepada yang mampu, yaitu pada setiap Hari Raya Idul Adha (Idul Haj atau disebut juga Idul Qurban), yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah. Secara umum makna qurban (kurban) dalam pengertian bahasa berasal dari kata qaruba-yaqrubu-qurbanan, yang artinya dekat atau mendekatkan diri.

Orang yang berkurban adalah orang yang berusaha mendekatkan dirinya dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Sedangkan kurban dalam kaitan penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Idul Kurban diistilahkan dengan al-udhiyyah, yang sangat dianjurkan (sunnah muakadah) untuk dilakukan oleh yang sangat dianjurkan (sunnah muakadah) untuk dilakukan oleh orang (keluarga) yang memiliki kemampuan. Allah SWT berfirman : “maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (Q.S. 108:2). Dalam sebuah hadits Rasululullah saw bersabda, barangsiapa yang memiliki keleluasaan (untuk membeli hewan kurban) lalu tidak melakukannya (tidak berkurban), maka janganlah mendekati tempat shalatku” (HR. Ahmad).

Dalam hadits lain riwayat Ibnu Majjah, Rasululullah saw juga bersabda, Tidaklah ada amalan Ibn Adam pada Hari Raya Adha yang lebih dicintai oleh SWT, selain mengeluarkan darah (menyembelih hewan kurban). Sesungguhnya hewan itu akan datang pada Hari Kiamat nanti lengkap dengan tanduknya, kulit dan bulunya. Dan sesungguhnya darah hewan itu akan diterima Allah SWT sebelum jatuh ke tanah. Maka ikhlaskanlah hatimu dalam melakukannya.

hikmah-kurban-pada-hari-raya-idul-adha

Qurban Merupakan Wujud Ketaatan dan Kasih Sayang Sesama

Orang yang berkurban adalah orang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah SWT sekaligus mendekatkan dirinya kepada sesama manusia. Daging hewan kurban kemudian dibagikan kepada kaum fakir miskin yang mungkin mengalami kesulitan untuk mengkonsumsi daging, karena tidak terjangkau oleh daya beli. Saking pentingnya penyembelihan hewan kurban ini sampai Rasululullah saw menyatakan bahwa siapa saja yang mempunyai kemampuan (keleluasaan untuk membeli seekor kambing) lalu tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami. Juga sabdanya bahwa tidak ada amalan manusia pada Hari Raya Adha yang lebih dicintai Allah, selain mengalirkan darah hewan (maksudnya : menyembelih hewan kurban).

Penyembelihan hewan kurban dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat Idul Adha, atau tanggal 11, 12 sampai dengan tanggal 13. Ketiga hari terakhir ini disebut dengan hari tasyriq yang berarti “hari yang berlimpah dengan daging”. Penyembelihan tidak boleh dilakukan sebelum pelaksanaan shalat Idul Adha. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasululullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat maka harus menyembelih hewan lain untuk menggantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih, maka sembelihlah (sesudah shalat) dan sebutlah nama Allah.”

Setelah disembelih, daging hewan langsung diberikan kepada golongan fakir miskin yang mungkin dalam kesehariannya tidak mempunyai kemampuan untuk mengkonsumsi daging, karena di luar jangkauan daya beli mereka. Apabila di daerah orang yang berkurban masyarakatnya sudah terbiasa mengkonsumsi daging, maka boleh saja hewan tersebut disebarkan ke daerah-daerah yang betul-betul membutuhkannya.

Adapun hewan kurban yang disembelih, jika memiliki keleluasaan dana maka hendaknya yang jantan, yang gemuk dan bertanduk, sebagaimana kurban yang dilakukan oleh Rasululullah saw. Apabila tidak, maka yang menjadi syarat hewan kurban adalah tidak termasuk salah satu dari kategori yang empat. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dan Imam yang empat serta disahihkan oleh Imam Turmudzi dan Ibn Ribban, Rasululullah bersabda, Empat jenis binatang yang tidak memenuhi syarat untuk dijadikan hewan kurban, pertama: hewan buta (sebelah) yang jelas butanya. Kedua, Binatang sakit (berpenyakit) yang jelas sakitnya. Ketiga: Binatang yang pincang, yang jelas pincangnya. Keempat: Binatang yang sudah tua yang tidak bersum-sum.”

Hikmah Kurban Pada Hari Raya Idul Adha

Menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Haji adalah juga untuk menghidupsuburkan salah satu sunnah yang dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim AS yang mendapatkan perintah melalui mimpi untuk menyembelih anaknya yang sangat dicintainya, yaitu Nabiyullah Ismail AS, yang karena ketundukkannya kemudian Allah menggantikan dirinya dengan menyembelih seekoor kibasy (domba) yang terus berlanjut sampai akhir zaman, sebagaimana diungkapkan kisahnya dalam Al Quran surat Ash-Shaffat (37) ayat 102-111.

Sesungguhnya masih banyak hikmah yang dapat dipetik dari teladan Nabi Ibrahim dan putranya Ismail AS ini. kepada kita yang bentuk syukurnya mewujud dalam prosesi ritual pelaksanaan syariat-Nya. Allah berfirman dalam Q.S.22:36: “ Dan telah kami jadikan untuk kamu unta-unta (binatang ternak) itu sebahagian dari syiar Allah. Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan tidak terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati) maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”

Selain itu kurban adalah bentuk taqarrub (usaha mendekatkan diri) kepada Allah SWT karena kasih sayang kita pada sesama manusia, terutama pada golongan fakir miskin yang membutuhkannya. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini hubungan batin dan persaudaraan antara golongan yang berkecukupan dengan golongan yang berkekurangan akan terjalin. Menyayangi sesama manusia pada hakekatnya mengundang rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT dan seluruh makhluk-Nya yang ada di langit. Rasululullah saw bersabda, “Sayangilah oleh kamu sekalian sesama manusia yang ada di muka bumi, maka pasti akan menyayangi kepad kamu makhluk yang ada di langit.” Berkurban juga menghidupsuburkan salah satu sunnah yang telah dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim AS yang kemudian berlanjut abadi sampai akhir zaman, sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran surat AshShaffat (37) 102-111:

Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami panggil dia : “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-rang yang datang kemudian, yaitu kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”

Sebagaimana ummat Rasululullah saw, kaum muslimin diperintahkan mengikuti sunnah Nabi Ibrahim AS, sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah : Benarlah apa difirmankan Allah, maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik” (Q.S.3:95). Karena itu jika Anda memiliki keleluasaan materi, marilah kita syiarkan Hari Raya Haj ini dengan penyembelihan hewan kurban. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua. Amin.

Ditulis oleh Drs. KH. Didin Hafidhuddin, MSc di WBC edisi 408

 

Hikmah Kurban Pada Hari Raya Idul Adha – Lentera Kecil

ADD YOUR COMMENT