Sejarah Berdirinya Kampung Inggris Pare Kediri

Di Jawa Timur ada nama Kampung Inggris, namun bukan kampung yang dihuni oleh orang-orang bule (Inggris)  melainkan sebutan untuk Desa Palem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, karena terdapat  ratusan lembaga kursus bahasa asing khususnya bahasa inggris.

Uniknya, tempat kursus di kampung Inggris ini bukan hanya dilaksanakan di dalam ruangan tertutup, tetapi banyak yang sengaja dilakukan di ruang terbuka, seperti di teras rumah dan pondok-pondok terbuka. Peserta kursus yang datang  pun dari berbagai kota di Indonesia yang sengaja datang untuk belajar.

Biasanya, peserta kursus tinggal beberapa bulan di desa ini dengan menyewa kamar atau indekos di rumah-rumah warga setempat. Sebagai alat transportasi mereka menggunakan sepeda, mungkin karena jarak antara tempat indekos dengan tempat kursus tidak terlalu jauh.

Sejarah Kampung Inggris Pare

 

Sejarah Awal Kampung Inggris di Desa Palem

Sejarah Kampung Inggris di Desa Palem, Pare, Kediri ini tidak terlepas dari perjalanan kehidupan Kalend Osen yang diyakini sebagai orang yang berjasa pada awal terbentuknya Kampung Inggris.

Asal mulanya, pada tahun 1976, Kalend Osen pria kelahiran 4 Februari 1945 tersebut adalah seorang santri asal Kutai Kartanegara yang tengah menimba ilmu di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Menginjak kelas lima, ia terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena tidak kuat menanggung biaya pendidikan. Bahkan, keinginannya pulang kembali ke kampungnya gagal karena tiada biaya.

Dalam situasinya yang sulit itu, salah satu temannya memberitahukan adanya seorang ustaz yang bernama K.H. Ahmad Yazid di Pare yang menguasai delapan bahasa asing salah satunya mahir bahasa Inggris. Kalend muda kemudian berniat untuk berguru, dengan harapan setidaknya dapat menguasai satu atau dua bahasa asing darinya. Ia lalu mulai tinggal dan belajar di Pesantren Darul Falah, Desa Singgahan, milik Ustaz Yazid.

Pada suatu waktu, datang dua orang tamu mahasiswa dari IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Kedatangan dua mahasiswa itu adalah untuk belajar bahasa Inggris kepada Ustaz Yazid sebagai persiapan menghadapi ujian negara yang akan dihelat dua pekan lagi di kampusnya.

Kebetulan, saat itu Ustaz Yazid tengah bepergian ke Majalengka dalam suatu urusan, sehingga kedua mahasiswa itu hanya ditemui oleh ibu Nyai Ustaz Yazid. Entah dengan alasan apa, oleh Nyai Ustaz Yazid, kedua mahasiswa itu diarahkan untuk belajar kepada Kalend.

Dua mahasiswa itu kemudian menyodorkan beberapa lembaran kertas yang berisi 350 soal berbahasa inggris kepada Kalend Osen yang pada saat itu sedang menyapu halaman masjid. Setengah ingin tahu, Kalend memeriksa soalsoal itu dan kemudian meyakini dapat mengerjakannya lebih dari 60 persen. Kalend menyanggupi permintaan itu dan mereka akhirnya terlibat proses belajar mengajar yang dilakukan di serambi masjid area pesantren. Pembelajarannya cukup singkat, dilakukan secara intensif selama lima hari saja.

Tak disangka, sebulan kemudian dua mahasiswa kembali dan mengabarkan telah lulus ujian. Betapa bahagianya Kalend Osen pada waktu itu. Keberhasilan dua mahasiswa itu tersebar di kalangan mahasiswa IAIN Surabaya dan banyak dari mereka akhirnya mengikuti jejak seniornya dengan belajar kepada Kalend. Promosi dari mulut ke mulut pun akhirnya menjadi awal terbentuknya kelas pertama.

Tempat Kursus Bahasa Inggris Pertama

Pada 15 Juni 1977 di desa setempat, Pak Kalend mendirikan lembaga kursus dengan nama Basic English Course (BEC) dengan enam siswa pada kelas perdana. Para siswa tersebut terus dibina dan dididik tidak hanya kemampuan bahasa inggris, namun juga ilmu agama serta kecakapan akhlak.

Pada awal berdiri, fasilitas yang dimiliki sangat terbatas, karena hanya berlokasi di teras masjid yang diperuntukkan untuk anak-anak desa yang kurang menguasai bahasa Inggris. Selanjutnya, pelajaran dilokasikan di rumah-rumah hingga akhirnya sampai ia memiliki gedung sendiri.

Begitulah perjuangan Pak Kalend yang konsisten dan pantang menyerah hingga mengantarkan BEC menjadi begitu terkenal dan lulusannya diakui kualitasnya. Hal inilah yang mengundang banyak pendatang dari seantero nusantara untuk belajar bahasa Inggris disana. Sampai-sampai, tidak ada tempat lagi di BEC untuk menampung para calon murid tersebut.

Dari sinilah mulai berkembang beberapa lembaga kursus baru untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Beberapa lulusan BEC tetap mengajar di sana dan beberapa yang lain mendirikan lembaga kursus sendiri. Lembaga kursus yang didirikan pun semakin bervariasi dari segi waktu, spesialisasi program, metode, serta biayanya.

Basic English Course (BEC) milik Pak Kalen, yang merupakan tempat kursus pertama di Kampung Inggris ini,sudah berdiri megah dan sebagaian bangunannya bertingkat bagaikan komplek. Di tempat ini, selain difungsikan sebagai tempat kursus, juga sekaligus sebagai tempat tinggal, lengkap dengan tempat parkir yang ditata rapi.

Tidak semua lulusan BEC memilih untuk mengajar dan mendirikan kursus sendiri. Ada juga yang buka warung, jualan bakso, dagang soto, membuka tempat fotokopi, dan usaha lainnya. Istimewanya, mereka semua lancar berbahasa Inggris. Mungkin dari sinilah asal ungkapan “Bahkan tukang bakso sampai tukang soto pun bisa berbahasa Inggris di Pare”.

Harapan Pak Kalend untuk semua pihak, baik pemilik lembaga kursus, masyarakat setempat, dan aparat desa, sama-sama dapat memelihara bagaimana caranya Kampung Inggris ini dapat tetap dipertahankan. Salah satunya supaya para pemilik kursus berusaha tidak mengecewakan konsumen, dan kemudian memberikan pelayanan yang baik serta dukungan dari masyarakat setempat

 

Kampung Inggris Pare Kediri – Lentera Kecil

ADD YOUR COMMENT