Pegadaian Pertama Di Indonesia

Tahukah Anda bahwa Perusahaan pegadaian pertama di Indonesia didirikan di Sukabumi Jawa Barat? Berdasarkan catatan sejarah pada tanggal 12 Maret 1901 pemerintah Hindia Belanda menerbitkan staatsblad (Lembar Negara)   No. 131 tahun 1901 yang berisi:

“Sejak saat itu di bagian Sukabumi kepada siapapun tidak diperkenankan untuk dengan member gadai atau dalam bentuk jual beli dengan hak membeli kembali, meminjamkan uang tidak melebihi 100 (seratus) golden. Dengan hukuman tergantung kepada kebangsaan para pelanggar yang diancam dalam Pasal 337 KUHP bagi orang-orang Eropa dan Pasal 339 KUI IP bagi orang Pribumi.”

Kemudian lembar negara tersebut ditindaklanjuti dengan mendirikan rumah gadai negara di Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 1 April 1901. Selanjutnya setiap tanggal 1 April diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Pegadaian.

Pegadaian Pertama Di Indonesia

Sejarah Gadai di Indonesia

Masyarakat di Indonesia sudah mengenal pegadaian pada ratusan tahun yang lalu sebelum kolonial Belanda datang. Di beberapa daerah, masyarakat nya telah melakukan gadai tanah yang diatur oleh hukum adat setempat. Waktu itu melakukan transaksi hutang dengan jaminan barang tidak bergerak berupa tanah atau gadai tanah.

Setelah Belanda datang ke Indonesia, Gubernur Jendral VOC yaitu Van Imhoff mendirikan Bank Van Leening di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746 dengan tujuan sebagai lembaga keuangan yang khusus memberikan kredit dengan sistem gadai. Modal awalnya adalah sebesar f 7.500.000; yang terdiri dari 2/3 modal milik VOC dan sisanya dari swasta. Meskipun melayani gadai namun bukan lembaga gadai (pegadaian) melainkan berbentuk Bank. Bank Van Leening ini yang menjadi cikal bakal berdirinya pegadaian di Indonesia.

Ketika Inggris datang dan mengalahkan Belanda (1811), Bank Van Leening dibubarkan. Pemerintah Inggris memberi  keleluasaan kepada masyarakat untuk mendirikan usaha Pegadaian dengan mendapat lisensi dari pemerintah Inggris atau dikenal dengan liecentie stelsel. Namun, liecentie stelsel banyak menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan masyarakat dengan munculnya rentenir atau lintah darat yang membebani masyarakat dan pemerintah kolonial.

Ketika Belanda kembali berkuasa, Bank Van Leening dihidupkan kembali. Namun pemegang hak pegadaian ternyata dapat melakukan penyelewengan dalam menjalankan bisnisnya dengan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya dari hasil barang yang digadaikan oleh masyarakat.

Barulah setelah lembaga gadai (pegadaian) didirikan di Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 1 April 1901, pemerintah Hindia Belanda melakukan upaya khusus untuk menumpas segala macam praktek pinjam-meminjam yang tidak diinginkan. Artinya, yang dirugikan masyarakat, misalnya suku bunga yang tinggi, lelang yang diatur, barang gadaian yang tidak terawat. Dengan cara ini akhirnya mosi percaya dari masyarakat terhadap pegadaian dapat ditegakkan.

Sumber: Sejarah Pegadaian di Indonesia

Pegadaian Modern

Saat ini seiring berkembangnya waktu, Pegadaian, tidak hanya melayani kredit gadai saja, tetapi juga jasa finansial lainnya. Bahkan bermunculan pegadaian swasta yang memiliki layanan kredit gadai dan jasa finansial lainnya.  Adanya perbedaan pegadaian bumn dengan swasta memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk memilih cara dalam mencari pinjaman dana baik itu untuk kepeluan keluarga maupun usaha.

 

Pegadaian Pertama Di Indonesia – Lentera Kecil

ADD YOUR COMMENT