Semangat Belajar Sekolah Perbatasan Sebatik

Pulau Sebatik yang terletak di Kalimantan Utara merupakan pulau yang unik. Dalam satu pulau tersebut terdapat dua wilayah kenegaraan, yaitu Indonesia dan Malaysia. Banyak warga negara Indonesia yang sehari-harinya bekerja di perkebunan kelapa sawit di Bergosong, Malaysia. Mereka pun hidup di sana bersama anak-anaknya. Namun sayangnya, anak-anak para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tersebut kesulitan mendapat akses pendidikan yang layak di Malaysia.

Hingga seorang bidan desa bernama Suraidah merasa iba dan ia bertekad untuk menyediakan akses pendidikan bagi mereka. Bagi Suraidah, meskipun hidup di perbatasan, seharusnya tidak ada batasan untuk akses pendidikan.

Sekolah Dasar di Perbatasan Sebatik

 

Sekolah Tapal Batas Pulau Sebatik

Bidan desa Suraidah pun mendirikan sebuah Sekolah Tapal Batas di Sebatik Tengah dengan meminjam rumah salah satu warga. Persoalan tidak berhenti sampai disana karena ia harus membujuk para orang tua agar anaknya diperbolehkan untuk bersekolah di Sekolah Tapal Batas.

Ini bukan hal yang mudah karena anak-anak harus melewati perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari yang berarti harus menempuh perjalanan panjang dan berurusan dengan aparat di perbatasan.

Usaha Suraidah ini mengetuk banyak pihak, termasuk perusahaan negara PT Pertamina. Pada 2015, Pertamina EP mulai berkolaborasi dengan Suraidah untuk membantu keberlangsungan pendidikan di daerah perbatasan tersebut. Sejumlah bantuan berupa sarana dan prasarana penunjang menjadi hal yang utama untuk diberikan.

Sekolah Tapal Batas saat ini memiliki sekitar 150 peserta didik. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, sama dengan teman-temannya yang ada di wilayah Indonesia lainnya.

Namun yang perlu diingat adalah, sebagai anak yang tumbuh di perbatasan, sesungguhnya mereka adalah aset besar bangsa ini yang akan menjadi kunci kedaulatan negara. Jika anak anak ini mendapat perhatian yang layak dari Indonesia, tentu mereka akan tumbuh dengan kebanggaan terhadap negaranya dan turut menjaga wilayah NKRI di perbatasan.

Intinya bahwa anak-anak ini mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan, mereka adalah aset besar bangsa ini, dan mereka juga punya cita-cita yang besar, nantinya di kemudian hari mereka jualah yang akan menjaga kedaulatan NKRI. Kalau ini dibiarkan begitu saja jangan salahkan jika mereka punya pandangan bahwa Indonesia tidak memperhatikan mereka, bisa jadi mereka pindah kewarganegaraan karena merasa tidak diperhatikan. Apakah kita tega?

 

Sumber: Buletin Energia

Semangat Belajar Sekolah Tapal Batas – Lentera Kecil

ADD YOUR COMMENT