Tingkat Keutamaan Manusia Di Dunia

Tingkat Keutamaan Manusia Di Dunia – Untuk menemukan jati diri seorang Muslim. Tentu saja, kalau kita mempertanyakan tentang makna dan tujuan hidup, maka setiap orang mempunyai makna dan jawabannya masing-masing. Tetapi pada kesempatan ini, kita akan melihat beberapa hal yang terkait langsung dengan makna hidup ini. Setiap orang tentu saja ingin hidup sempurna dan bahagia di dunia ini dan barangkali sebagian besar orang juga menginginkan hidup bahagia di akhirat kelak.

tingkat-keutamaan-manusia-di-dunia

Tingkat Keutamaan Manusia

Apa makna kebahagiaan itu, atau apa keutamaan yang kita cari di dunia ini ? Paling sedikit ada empat tingkat keutamaan.

1.  Keutamaan memiliki harta, jabatan dan pasangan

Pertama, tingkat keutamaan memiliki harta benda, jabatan, termasuk juga memiliki istri atau suami. Orang-orang yang memiliki bentuk keutamaan demikian terjalin dalam hubungan yang sangat rentan dengan keutamaan yang dimilikinya. Kenapa demikian ? Katakanlah, misalnya saya adalah orang yang paling kaya di kota saya. Siapa yang menjamin, bahwa kebahagiaan atau kebanggaan seperti itu akan langgeng dan abadi ? Jawabannya adalah, bahwa tidak satupun orang bisa menjamin ! Bisa saja besok atau kapan-kapan yang kita miliki itu lari dari kita, dengan kata lain menjadi milik tuan yang lain. Lalu kita menangis karena harta atau jabatan kita hilang, tetapi kita tidak perlu tahu, bahwa harta atau jabatan tidak akan pernah menangis ketika meninggalkan tuannya yang lama dan menemukan tuan yang baru. Ini artinya, bahwa keutamaan seperti ini menempati kategori paling rendah.

2. Keutamaan bentuk kesempurnaan fisikal

Keutamaan yang kedua adalah dalam bentuk kesempurnaan fisikal. Sebagai contoh, misalnya kita memiliki tubuh yang bagus, tampan atau cantik. Barangkali banyak orang menyangka , bahwa ketampanan atau kecantikan yang dimiliki akan bertahan lama. Kita perlu menyadari, bahwa yang demikian juga sifatnya artifisial atau tidak langgeng. Dalam kaitannya dengan itu, Allah berfirman dalam surat At-Takatsur, “Berlomba-lombalah kamu dalam mencari keutamaan, sampai akhirnya kalian semua akan masuk liang lahat.” Ini artinya bahwa semua kebanggaan yang kita miliki, baik berupa ketampanan, kegagahan, kecantikan dan lainnya, pada gilirannya akan berakhir pada ketuaan dan kematian.

Memang, tingkat keutamaan yang baru saja kita bicarakan lebih tinggi dan lebih langgeng daripada yang pertama, tetapi ia sesungguhnya juga tidak langgeng karena sifatnya yang sementara.

3. Keutamaan budi pekerti

Keutamaan yang ketiga adalah keutamaan budi pekerti (al Akhlaq al-Karimah) atau akhlak yang mulia. Ini adalah bentuk keutamaan yang paling tinggi kalau dibandingkan dengan kedua keutamaan di atas. Sebagai contoh, seseorang memiliki harta yang banyak, dia akan bersikap dermawan. Ia tidak enggan memberikan sebagian hartanya untuk fakir miskin dan anak yatim; seorang professor yang pintar yang mengabdikan keilmuannya untuk mencerdaskan sesama manusia di sekolah atau di perguruan tinggi atau orang yang menolong sesame manusia, terlebih bagi yang membutuhkannya.

Bentuk keutamaan seperti ini tentu saja lebih tinggi tingkatannya dari kedua keutamaan sebelumnya. Sekalipun demikian, kedermawanan kita bukan tanpa syarat. Syarat yang paling mutlak untuk menunjang kedermawanan, kebaikan dan pengabdian yang kita miliki adalah keberadaan orang lain atau komunitas di sekitar kita. Sedermawan apapun seseorang, ketika dia hidup di tengah padang pasir yang tidak terdapat orang hidup di sekitarya, maka kedermawanan pada saat itu tidak punya arti apa-apa. Hal ini menunjukkan, bahwa keutamaan seseorang pada tahap ini terkait dengan kehadiran orang lain. Tanpa kehadiran orang yang akan menerima kedermawanan, atau kebaikan seseorang, semua itu tidak akan terjadi.

4. Keutamaan memiliki pengetahuan dan berhubungan dengan Allah SWT

Keutamaan yang keempat atau paling tinggi dibanding tiga bentuk keutamaan di atas adalah keutamaan memiliki pengetahuan dan berhubungan dengan Allah SWT. Dzat Yang Maha Abadi. Sebab, pada saat kita berhubungan dengan Allah SWT, kita tidak membutuhkan siapapun. Ini membuktikan bahwa diri kita ingin berhubungan dengan Yang Maha Abadi, yaitu Allah SWT. Artinya, ketika kita beribadah artinya kita benar-benar melakukan hubungan yang secara personal kepada Allah SWT untuk mencapai keabadian juga. Karena, tentunya kita benar-benar sadar, bahwa ada kehidupan yang lebih abadi selain di dunia ini, yaitu di akhirat kelak. Karena itu, ketika kita melakukan hubungan dengan yang Maha Abadi, itu artinya kita memiliki keutamaan yang paling tinggi yaitu upaya mencapai keabadian dan berhubungan dengan Yang Maha Abadi. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya alam akhirat itu lebih utama daripada alam yang ada sekarang ini (dunia)”.

Oleh karena itu, penting kiranya kita merenungkan hal ini. Kemanakah arah dan tujuan hidup kita, apakah kita bertujuan untuk mencari keutamaan pada tingkat pertama, kedua, ketiga atau keutamaan yang keempat, yaitu keutamaan yang paling tinggi, berupa hubungan personal kita dengan Dzat yang Maha Abadi untuk meraih kebahagiaan dan keabadian kelak di akhirat.

 

Tingkat Keutamaan Manusia Di Dunia – Lentera Kecil


Artikel lain yang perlu dibaca :

ADD YOUR COMMENT