daftar iklan mgid

Pengertian dan Konsep Pembacaan Cerita

Pengertian pembacaan cerita adalah kegiatan membaca sebuah cerita yang dilakukan secara lisan dan langsung di hadapan pendengar cerita atau penonton seperti lewat siaran radio, siaran televisi atau pementasan langsung. Prinsip kegiatan pembacaan cerita, sebagaimana kegiatan membaca cerita rekaan atau cerkan pada umumnya, juga merupakan salah satu upaya memahami dan menikmati cerkan.

pembacaan cerita

Dengan demikian, upaya untuk memahami dan menikmati cerita rekaan (cerkan) tidak bersifat individual, tetapi cenderung bersifat kolektif. Artinya, seseorang yang melakukan pembacaan cerita melibatkan pendengar atau penonton untuk dapat menikmati cerkan yang dibacakan. Ada sedikit perbedaan dengan kegiatan mendongeng.

Konsep Pembacaan Cerita

Secara konseptual, pembacaan cerita dapat dikaitkan dengan dua ragam atau bentuk membaca, yaitu:

1. Membaca Teknik

Istilah ragam membaca teknik sering juga disebut membaca lisan (oral reading) atau membaca nyaring (reading aloud). Disebut demikian, karena membaca teknik adalah membaca yang dilaksanakan secara bersuara seseuai dengan aksentuasi, intonasi, dan irama yang benar selaras dengan gagasan serta suasana penuturan dalam teks yang dibaca.

Lentera kecil:  Keterampilan Menulis Paragraf

Membaca teknik dapat dihubungkan dengan kegiatan membaca cerita rekaan (cerkan), seperti story telling, yang bersifat redeskriptif. Dalam membaca redeskriptif, bunyi ujar tidak muncul secara sewenang-wenang, tetapi harus mampu menggambarkan isi cerita serta suasana awal yang dipaparkan pengarang dalam teks tertulis.  Oleh karena itu, agar kegiatan membaca cerkan dapat berhasil dengan baik harus ditunjang kemampuan mencakup pelafalan, kualitas bunyi, tempo, dan irama, serta penguasaan aspek gerak tubuh.

2. Membaca Estetis

Ragam membaca estetis merupakan salah satu ragam yang mempunyai kaitan  utama dengan kegiatan membaca cerita rekaan (cerkan). Membaca estetis adalah kegiatan membaca yang dilatarbelakangi oleh tujuan untuk menikmati serta menghargai unsur-unsur keindahan yang terpapar dalam teks cerkan. Tentu saja, untuk dapat menikmati dan menghayati, pembaca harus terlebih dahulu mampu memahami isi serta suasana penuturan dalam teks cerkan yang dibaca.

Secara umum kegiatan pembacaan cerita dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar.

Lentera kecil:  Contoh Struktur Modul Pelatihan

Pertama, pembacaan cerkan biasa, tanpa iringan, yang dibaca berupa teks lugas dan hanya mengandalkan kekuatan vokal.  Pembacaan cerita jenis ini belum melibatkan aspek-aspek artistik yang kompleks dan rumit. Pembacaan cerita ini juga dapat dilakukan di atas pementasan, tetapi tanpa bantuan instrumen.

Kedua, pembacaan sastra sebagai seni pentas, yakni pembacaan sastra yang telah mengarah pada bentuk seni pementasan. Dalam hal ini, kegiatan pembacaan membutuhkan unsur-unsur seni lain, seperti musik, tata panggung, seni akting, dan sebagainya (Endraswara, 2003:199).

Pembacaan cerita pada dasarnya merupakan suatu bentuk interaksi antara pembaca dan audiens. Oleh karena itu, dalam kegiatan pembacaan sastra perlu diciptakan suasana komunikatif. Sesekali pembaca perlu berinteraksi dengan penonton dengan mereaksi atau merespon penonton, mendekat ke arah penonton, dan juga mengejek atau mengajak tertawa mereka. Pembacaan sastra tidak hanya berhenti pada kegiatan personal dan kritis, tetapi juga sampai pada tataran kreatif estetis. Kegiatan pembacaan merupakan bagian dari kreativitas berolah sastra yang di dalamnya sarat dengan nilai seni.

Lentera kecil:  Contoh Laporan Penelitian Sekolah IPS

Pada akhirnya, jika kemampuan pembacaan cerita dapat dilatih dengan baik, akan dapat diarahkan pada kegiatan seni pertunjukan. Dalam hal ini kegiatan pembacaan sastra merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan kolaboratif. Artinya, kegiatan pembacaan sastra melibatkan seni lain, seperti seni musik untuk instrumentasi suara atau nada, seni rupa untuk kepentingan penataan panggung, seni tari dan teater, sebagai sarana pengaturan gerak dan acting, serta bidang-bidang lainnya yang mendukung kegiatan pertunjukan. Apabila kegiatan ini dapat dikemas dengan baik, tidak tertutup kemungkinan dapat ditampilkan menjadi sajian yang bernilai komersial yang layak ditonton.

Referensi:

  • Aminuddin. 1989. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa
  • Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarkan Sastra.  Yogya­karta: Penerbit Kota Kembang.
  • Ichsan. 1987. “Membaca Puisi” dalam Nurhadi dkk (Ed.). Kapita Selekta Kajian Bahasa,  Sastra, dan Pengajarannya. Malang: FBPS IKIP Malang

 

Pengertian dan Konsep Pembacaan Cerita

Lentera Kecil

Media online sarana pembelajaran pendidikan dan pengetahuan informatif, inspiratif dan edukatif

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *