Inspirasi

Surat dari Sahabat ODHA

Bagaimana keadaan kamu, sahabat? Semoga sehat dan sejahtera semuanya. Aku dalam kondisi sehat, walaupun seperti yang kamu ketahui, aku dinyatakan oleh dokter terkena virus HIV, tapi aku merasa segar dan bersemangat hari ini.

Maaf, aku baru bisa membalas suratmu. Sahabat, kamu bukan hanya sahabat sejati, kamu juga orang pintar dan bijaksana. Teringat aku sewaktu menerima lembar pemberitahuan hasil laboratorium ternyata darahku positif terinfeksi virus HIV. Bagai disambar petir dan kaki tak mampu lagi menopang tubuhku , beruntung ada kamu. Aku merasa lemas dan kamu segera merangkulku membawa ke luar ruangan. Kamu tidak sedikitpun merasa takut tertular bahkan kamu terus memelukku hingga ke rumah. Kamu tahu dan mengerti bahwa kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, terekspos batuk dan bersin dari penderita HIV, menggunakan toilet dan alat makan bersama, berpelukan, aktivitas tersebut tidak mengakibatkan penularan HIV.

Apa yang terjadi setelah kamu pulang dan kedua orang tuaku datang dari bekerja. Mereka marah besar, sebuah tamparan sempat mendarat di pipiku. Aku dikatakan anak pembawa aib keluarga, karena masih sekolah sudah melakukan hubungan sex bebas. Rupanya orangtuaku belum sepenuhnya mengetahui penyebab tertularnya virus HIV, mungkin hanya mendengar berita-berita kematian artis Hollywood akibat HIV/AIDS karena melakukan free sex atau hubungan sejenis. Syukurlah kini orang tuaku telah mengerti dan menyadari.

Surat dari Sahabat ODHA

Sahabatku, seandainya aku waktu itu mendengar nasihatmu agar menjauhi teman-temanku yang bergaya hidup bebas, mungkin keadaan tidak seperti ini. Terus terang aku masih perjaka dan hanya sekali mencoba narkotika. Jarum suntik yang kupakai bergantian dengan teman lain penyebab malapetaka ini, apalagi teman-temanku melakukan free sex dengan bergonta-ganti pasangan. Untuk itu, sahabatku tolong nasihati teman-teman lain agar menjauh dari perilaku sex bebas dan menjauhi narkoba, ceritakan saja kalau aku salah satu korbannya.

Sahabatku. Maaf, sewaktu aku pindah sekolah belum sempat berpamitan. Sehari setelah mendapat vonis dokter, entah siapa yang menyebarkan, berita tentang diriku sudah meluas di sekolah. Kamu tahu sendiri reaksi teman-teman kita, guru, lingkungan sekolah. Aku dijauhi, aku dikucilkan dan aku dihina seperti berkelakuan binatang. Sungguh pedih dan tersiksa, sahabat. Hanya kamu yang masih menerima aku, menasihati, membesarkan hatiku.

Kamu dengan bijaksana dan sabar menjelaskan bahwa HIV adalah suatu virus. Virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia serta akan menimbulkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome). Virus ini menyebabkan orang menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik atau mudah terkena tumor. Penyakit yang diperkirakan berasal dari benua Afrika pertama kali ditemukan tahun 1959 dan menjadi terkenal tahun 1981 di Amerika setelah ada laporan lima laki-laki homoseksual menderita AIDS. Dan kamu menjelaskan lebih detail tentang penularan virus ini bisa terjadi melalui tiga jalur utama ke dalam tubuh yaitu melalui hubungan seksual, kontaminasi patogen melalui darah, serta dari ibu ke janin atau bayi menyusui ibu yang terinfeksi.

Yang lebih mengharukan lagi, sahabat. Kamu membesarkan hatiku, untuk tabah menghadapi cobaan. HIV/AIDS adalah suatu penyakit sama dengan penyakit lain seperti  Hepatitis, jantung, leukemia dan lain-lain dan semua orang bisa saja mengalami. Seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran, penyakit ini pasti bisa disembuhkan.

Teman-teman kita menganggap penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang mematikan, tidak dapat disembuhkan dan sepertinya harus menjauhi penderitanya. Apalagi guru kita pernah menerangkan akibat yang ditimbulkan virus HIV beserta gambar-gambar korban yang kurus kering, dihinggapi lalat, seolah-olah menakutkan. Harapanku semoga sekolah kita dulu mengundang ahli atau sukarelawan HIV/AIDS yang benar-benar mempunyai disiplin ilmu untuk menerangkan lebih terperinci sebab akibat serta penanggulangannya.

Sahabat baikku, akhirnya seminggu kemudian, orangtuaku memindahkan aku ke sekolah dimana nenekku bertempat tinggal. Aku menemukan lingkungan, suasana baru dan tidak seorangpun tahu tentang diriku, kecuali nenek. Entah sampai kapan mereka tahu. Tapi biarlah,  menjadi ODHA itu bukan pilihanku, semua ini kujadikan tantangan karena kamu telah mengajariku tentang makna kehidupan dan menolong sesama, inilah yang menguatkanku untuk memberikan yang terbaik di sisa hidupku untuk kamu, mereka, dan bangsa.

Dalam surat yang kamu kirim, kamu memberiku sebuah artikel menarik tentang seorang bocah  6 tahun bernama Ah Long  pengidap virus HIV yang ditularkan dari orangtuanya, terbuang, terkucil dari lingkungannya, bahkan neneknya sendiri enggan merawatnya. Hidup sendiri mulai mandi, memasak, tidur, bermain. Aktivitas keseharian hanya ditemani seekor anjing, semangat dan berani menjalani kejamnya kehidupan, meski dalam tubuhnya mengidap virus HIV yang mungkin tidak diketahui dan diharapkannya. Anak sekecil itu menanggung beban hidup dari orangtuanya. Berita yang menggemparkan di Guangxi China tahun lalu, telah beberapa kali aku baca dan menjadi motivasi dan penyemangat hidupku. Tapi syukurlah, setelah pemuatan berita itu, banyak yang mau menjadi orang tua asuh bocah itu, dan sumbangan terus mengalir lewat semacam PMI di sana.

bocah china penderita virus HIV
Ah Long penderita HIV – foto: chinasmack.com

Beruntung aku masih mempunyai kedua orangtua, nenek, saudara juga teman dan sahabat baik seperti Kamu. Oh ya, foto bocah itu aku pasang di kamar tidurku, agar aku terus lebih semangat menghadapi hidup, bocah kecil saja bisa bertahan hidup dengan semangat, apalagi aku sebagai seorang remaja.

Sahabat, aku selalu berdoa memohon kepada Allah Swt, semoga penyakitku dapat sembuh dan meminta agar orang-orang yang peduli terhadap penyakit dan penderita HIV/AIDS senantiasa diberi kekuatan, kesehatan, pengetahuan yang melimpah agar terus dapat bekerja menanggulangi keberadaan penyakit akibat virus HIV. Dan aku juga memohon kepadaNya, semoga teman, lingkungan sekitarku sadar, ini bukan penyakit turunan, terkutuk, menakutkan. Siapa yang ingin terinfeksi HIV, aku juga tidak. Aku ingin diperlakukan seperti yang lain, aku bukan penjahat yang perlu ditakuti dan dihindari, aku bukan pengemis yang minta dibelaskasihani. Aku manusia normal layaknya yang lain, hanya saja Virus HIV telah bersarang di darahku, dan aku merasa baik-baik saja.

Aku percaya penuh kepada pemerintah dan dunia, mereka tidak tinggal diam tentang virus HIV/AIDS  ini dan aku yakin bahwa semua penyakit pasti ada penyembuhannya. Juga seperti yang kamu katakan, semua perlu proses dan kesabaran. Aku selalu rutin berkunjung ke dokter, dan selalu menjaga kondisi kesehatanku, sesuai saran baikmu, sahabat.

Terima kasih sahabat, dukungan, saran, motivasi, penyemangat hidupku. Aku akan selalu tegar dan bersemangat menghadapi sisa-sisa hidupku. Semangatku untuk berkreatifitas tidak akan mati dan akan kuceritakan kepada generasi selanjutnya. Aku  optimis perjalanan hidupku masih panjang dan berhak meraih cita-citaku.  Aku akan mewujudkan mimpiku dan menolong siapapun tanpa pamrih agar kenanganku dan semangatku selalu hidup.

Aku berharap semoga banyak muncul orang seperti kamu. Hidup matiku kuserahkan kepada Yang Di Atas, bukan pada selembar kertas.

 

Untuk Sahabat sejatiku  dari sahabatmu ODHA

 

Catatan: Artikel ini merupakan opini penulis, bukan surat sebenarnya.

Sumber Inspirasi:

http://id.wikipedia.org
http://www.aidsindonesia.or.id
http://www.chinasmack.com/2010/stories/guangxi-chinese-aids-orphan-a-long.html

 

Loading...
loading...

Lentera kecil media online sarana pembelajaran pendidikan yang informatif, inspiratif dan edukatif

3 Comments

  • cha2

    Ini hanya dunia fana semua tidak ada yg abadi hanya PadaNyalah kelak kita kembali,,,mau di beri sakit kanker,hiv,leukimia,jantung semua sudah ada pada garisNya,semua sudah ada pada ketetapanNya,,,ketika dokter memvonis penyakit pada kita memang itu berat,lalu apakah kita akan mati saat itu juga?jika mungkin Allah berkehendak mungkin saja iya,tpi jika Allah tidak menghendakiNya?lalu apakah kita akan putus asa?kita akan pesimis?selama kita menyadari bahwa apapun yg ada di dunia ini adl ketetapanNya maka hati akan damai,,,jangan menyerah saudara2 q yg terjangkit hiv yg kata orang mematikan,,,itu bohong bahwa sanya kematian itu ghaib hak mutlak Milik Sang Ilahi,,,percaya bahwa Allah menurunkan penyakit pada hambaNya agar hambaNya senantiasa dekat kepadaNya,jangan menyerah,,,

  • Tommy Adi

    Kami dari Admin GoVlog, perlu meminta data diri Anda yang mengikuti GoVlog AIDS. Data diri ini kami pergunakan untuk pemberitahuan jika Anda terpilih menjadi 10 besar.

    Nama Lengkap:
    Jenis Kelamin:
    No tlp/HP (yang bisa dihubungi):
    Email:
    Yahoo Messenger:
    Alamat lengkap:
    Pekerjaan:
    Link posting Blog GoVlog AIDS:

    Mohon data diri Anda dikirim ke email tommy.adi@vivanews.com

    Terimakasih

  • Kang Salman

    Sahabatku aku tau mungkin kamu bersedih tapi aku tau kamu bukan manusia yang cengeng yang mengurung diri di kamar, aku yakin kamu pasti bisa berdiri dan membuktikan pada dunia kalau menjadi ODHA itu bukan sebuh kutukan. Kamu selalu mengajariku akan makna kehidupan dan menolong sesama, itulah yang menguatkanku untuk memberikan yang terbaik di sisa hidupku untuk kamu, mereka, dan bangsa.
    Semangatku untuk berkreatifitas tidak akan mati dan akan kutularkan kepada generasi selanjutnya. Menjadi ODHA bukanlah sebuah pilihan tapi bukan juga menjadi sebuah kutukan.
    Aku akan mewujudkan mimpiku dan menolong siapapun tanpa pamrih agar kenanganku dan semangatku selalu hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *