Pendidikan Berkarakter sebuah Wacana

Pendidikan Berkarakter sebuah Wacana

Selama ini pendidikan di Indonesia lebih mengutamakan aspek kognitif  atau aspek intelektual yang mengedepankan pengetahuan, pemahaman serta keterampilan berpikir. Bagi negara berkembang mengutamakan penyerapan ilmu pengetahuan berharap untuk mengejar ketinggalan terhadap negara yang telah maju. Salah satu wujud pelaksanaan adalah melalui lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan mampu mencetak lulusan yang hafal teori-teori pelajaran, pintar menjawab soal-soal pertanyaan, selembar surat tanda tamat belajar dengan nilai tinggi. Namun, mampukah mencetak manusia-manusia bermoral dan beriman, serta siap menghadapi tantangan, jujur, disiplin,  bertanggungjawab dan lain sebagainya?

Yang terjadi saat ini, pendidikan seakan menjadi persyaratan utama dalam segala hal. Mulai dari melamar kerja, jenjang karier sampai melamar wanita cenderung sebuah pertanyaan yang sering muncul tentang pendidikannya.

Kenyataan, pendidikan hanya mencari nilai bukan ilmu, pendidikan hanya sebagai syarat bukan pengetahuan, maka ditempuh dengan berbagai macam cara untuk mewujudkannya. Akhirnya yang muncul lulusan-lulusan yang siap kerja tapi tidak bisa bekerja, siap naik karier tapi tidak mampu berpikir dan siap meraih prestasi tapi tidak dapat beradaptasi.

Untuk itu, Indonesia sebagai negara yang siap maju, membutuhkan manusia-manusia berkarakter sesuai dengan kepribadian bangsa, negara dan agama. Salah satu upaya mewujudkannya adalah melalui pendidikan berkarakter. Pendidikan berkarakter diharapkan dapat mengimbangi hasil pendidikan dalam diri peserta didik.

Sebenarnya pendidikan berkarakter telah lama berkembang seiring dengan pendidikan itu sendiri. Pendidikan merupakan sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Hanya saja aspek tertentu lebih diutamakan.

Meskipun bisa dikatakan terlambat, Pemerintah Indonesia kembali mulai menerapkan Pendidikan Berbasis Karakter dengan menyelipkan ke dalam kurikulum pendidikan yang baru (baca: penyesuaian) sebagaimana tertuang  dalam U.U.R.I No.  20  Tahun  2003,  tentang Sistem  Pendidikan  Nasional,

Bab II:
“Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang  Negara  Republik Indonesia Tahun 1945.” (Pasal 2)
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada  Tuhan Yang Maha Esa, beakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (Pasal 3)

9 Pilar pendidikan berkarakter

  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan Nya.
  2. Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian.
  3. Kejujuran /amanah dan kearifan.
  4. Hormat dan santun.
  5. Dermawan suka menolong dan gotong royong/ kerjasama.
  6. Percaya diri, kreatif dan bekerja keras.
  7. Kepemimpinan dan keadilan.
  8. Baik dan rendah hati
  9. Toleransi kedamaian dan kesatuan.

Diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah, lembaga pendidikan, pendidik, peserta didik serta orang tua dalam mewujudkan pendidikan berkarakter di Indonesia. Semoga.

 

Lentera Kecil

 

 

Rekomendasi Artikel

loading...
Comments
  1. informasi yang sedang dicari oleh beberapa guru di indonesia…thanks atas infonya.posting yg lebih banyak lagi.

  2. pendidikan karekter sudah mesti dilakukan sekarang

  3. adit

    mohon ijin untuk saya pakai sebagai referensi. sedang dapat tugas dari atasan buat nulis tentang hal ini nich….terima kasih

    • LenteraK

      Silahkan, mas. Hanya saja ini hanya sebagai wacana Memperingati hari Guru Nasional. Belum sempat upload tentang pendidikan berkarakter.

  4. hariyani

    pembentukan kepribadian bangsa terhadap anak-anak memang harus segera dilakukan. Sebab kalau tidak disegerakan dikhawatirkan pula nasib anak-anak kita akan berkarakter bangsa lain. Hal ini mengingat begitu deras dan kuatnya pengaruh budaya asing terutama kepada usia remaja yang masih labil dalam mencari jati dirinya. Dunia pendidikan memang dapat dijadikan harapan dapat mengemban tugas ini tetapi juga harus diimbangi dengan kebijakan pemerintah yang memberikan penekanan terhadap kebebasan masuknya pengaruh asing.

    • LenteraK

      Pelajaran semacam “budi pekerti” kiranya perlu dipikirkan lagi oleh pemerintah

  5. Saya pribadi berpendapat, pendidikan karakter dimulai dari lingkungan keluarga, karena manusia mulai membentuk karakternya sejak dia masih kanak-kanak. Beberapa kali saya mengamati anak-anak dalam bermain dengan teman sebayanya, karakternya sudah mulai kelihatan. Maka yang diperlukan adalah orang tua-orang tua yang berkarakter, karena itu nantinya akan menjadi cerminan bagi anak-anak.

ADD YOUR COMMENT