Sertifikasi Untuk Tukang Dan Kuli Bangunan

Indonesia memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Salah satu bidang yang banyak menyerap tenaga kerja informal adalah bidang konstruksi bangunan. Hal ini disebabkan Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang giat melakukan pembangunan di segala bidang serta tenaga kerja adalah salah satu komponen penting dalam industri jasa pelaksanaan konstruksi. Hampir semua bagian dan detail pekerjaan konstruksi masih memerlukan tenaga kerja manusia.

Dalam bidang konstruksi, masih banyak tenaga kerja yang kurang dibekali oleh kemampuan teknik konstruksi bangunan yang memadai. Tidak jarang, banyak ditemui mandor, tukang dan kuli bangunan yang umumnya hanya menempuh pendidikan umumnya tingkat sekolah dasar hingga menengah, bahkan ada yang tidak menempuh pendidikan formal sama sekali. Banyak dari mereka mendapatkan keahlian di bidang konstruksi tersebut secara turun temurun atau autodidak. Biasanya sebelum menjadi seorang tukang, seorang kuli bangunan mempekerjakan sebagai kenek terlebih dahulu. Lama kelamaan kenek akan mahir dan bisa menjadi tukang dengan keahlian tertentu.

Sertifikasi Untuk Tukang Dan Kuli Bangunan

 

Sertifikasi Untuk Tukang Dan Kuli Bangunan

Dalam rangka mempersiapkan tenaga profesional di bidang jasa konstruksi pada suatu jabatan kerja tertentu, baik untuk pemenuhan kebutuhan nasional di dalam negeri maupun untuk kepentingan penempatan ke luar negeri, diperlukan adanya perangkat standar yang dapat mengukur dan menyaring tenaga kerja yang memenuhi persyaratan sesuai dengan kompetensinya.

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ( SKKNI ) merupakan suatu hal yang sangat penting dan dibutuhkan sebagai tolak ukur untuk menentukan kompetensi tenaga kerja sesuai dengan jabatan kerja yang dimilikinya, termasuk untuk tenaga kerja jasa konstruksi yang disusun berdasarkan analisis kompetensi setiap jabatan kerja yang melibatkan para pelaku pelaksana langsung di lapangan dan ahlinya dari jabatan kerja yang bersangkutan.

Diharapkan dengan adanya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ( SKKNI ) tersebut dapat meningkatkan mutu tenaga kerja Indonesia dan hasil pekerjaan di lapangan. Di sisi lain standar kompetensi kerja ini tetap masih memerlukan penyempurnaan sejalan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan industri Jasa Konstruksi, sehingga setiap masukan untuk penyempurnaan sangat diperlukan.

Dasar Sertifikasi Untuk Pekerja Konstruksi

Sesuai dengan Keputusan Dewan Pengurus Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) No 71 /KPYTS/D/VIII/2001: pasal 2 ayat (1), Tujuan sertifikasi adalah memberikan informasi objektif kepada para pengguna jasa bahwa kompetensi tenaga kerja yang bersangkutan memenuhi bakuan kompetensi yang ditetapkan untuk klasifikasi dan kualifikasinya,dan pasal 9 : ayat (1) : untuk setiap kualifikasi dalam suatu klasifikasi.

Berdasarkan Undang-Undang No 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, yang dilengkapi dengan aturan pelaksanaannya, yaitu PP No 28 tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi, pemerintah mengatur agar terwujud iklim usaha yang kondusif dalam rangka peningkatan mutu Sumber Daya Manusia yang terlibat dalam sektor jasa konstruksi tersebut.

Undang – undang No 18 Tahun 1999, tentang : Jasa Konstruksi beserta peraturan pelaksanaannya tersurat menyiratkan bahwa tenaga kerja yang melaksanakan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan konstruksi harus memiliki sertifikat keahlian dan atau keterampilan.

Realisasi dari perundangan tersebut adalah Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJK) bertugas menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja jasa konstruksi. Pendidikan formal ini akan membentuk suatu Badan Sertifikasi Keterampilan Institusi Diklat yaitu Badan penyelenggara sertifikasi yang independen dan mandiri, yang menyelenggarakan pengujian keterampilan kerja untuk proses sertifikasi keterampilan kerja tertentu.

Keharusan memiliki “sertifikasi keahlian dan atau keterampilan“ mencerminkan adanya tuntutan kualitas tenaga kerja yang betul-betul dapat diandalkan. Kondisi tersebut memerlukan langkah nyata dalam mempersiapkan perangkat (standar baku) yang dibutuhkan untuk mengukur kualitas tenaga kerja jasa konstruksi. Mengingat perkembangan yang ada, kompetensi sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan bisnis yang didasari oleh kepercayaan tersebut. Salah satu wujud kompetensi tersebut adalah bukti nyata yang ditorehkan dalam bentuk sertifikat kompetensi. Seorang tukang yang telah mendapatkan sertifikasi suatu bidang keahlian telah mendapat pengakuan tertulis tentang keahliannya tersebut.

 

Sertifikasi Untuk Tukang Dan Kuli Bangunan – Lentera Kecil

Rekomendasi Artikel

loading...

ADD YOUR COMMENT