Dampak COVID-19 pada Pasar Real Estat di Indonesia

covid 19 properti

COVID-19 telah mengguncang ekonomi global sejak wabah pertamanya pada akhir tahun 2019. Pandemi ini tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga pada berbagai sektor ekonomi, termasuk pasar real estat. Di Indonesia, COVID-19 memiliki dampak yang signifikan pada industri properti.

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Industri Properti

Industri properti di Tanah Air merasakan tekanan yang signifikan akibat pandemi Covid-19. Sejumlah proyek properti tertunda, penyerapan pasar menurun, dan perusahaan menghadapi masalah arus kas yang macet.

Dikutip dari situs kompas.id, salah satu sektor yang terdampak adalah penyerapan rumah dan apartemen kelas menengah bawah yang menjadi tulang punggung pasar properti Indonesia. Namun, daya beli konsumen yang melemah membuat masyarakat menengah bawah enggan melakukan transaksi properti dalam kondisi ekonomi yang sulit. Di sisi lain, investor segmen menengah atas juga menunda pembelian properti mereka karena mereka ingin melihat perbaikan kondisi kesehatan akibat Covid-19.

Data dari Real Estat Indonesia (REI) menunjukkan bahwa sektor properti melibatkan 13 bidang usaha dan terkait dengan 174 industri penunjang. Sektor ini memberikan pekerjaan bagi sekitar 20 juta tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut laporan dari konsultan properti Colliers International Indonesia, hampir semua usaha properti komersial, seperti perkantoran, hotel, dan pusat perbelanjaan, mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19. Dari segi pasokan, beberapa proyek properti baru mengalami penundaan dan proyek-proyek yang sedang dalam tahap pembangunan juga mengalami keterlambatan penyelesaiannya.

1. Penurunan Aktivitas Transaksi

Pandemi ini memicu ketidakpastian di pasar properti, sehingga banyak pengembang properti yang memilih untuk menunda proyek-proyek baru mereka. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti penurunan permintaan dan kesulitan dalam memperoleh pendanaan. Para pengembang juga menghadapi tantangan dalam hal perizinan dan persetujuan pembangunan yang terhambat karena pembatasan aktivitas yang diberlakukan selama pandemi.

Selain itu, sektor properti komersial juga terkena dampak yang signifikan. Penurunan jumlah pengunjung dan permintaan sewa yang menurun membuat bisnis perkantoran, hotel, dan mal merosot. Banyak perusahaan yang memilih untuk memperpanjang periode bekerja dari rumah atau merumahkan karyawan mereka, yang mengakibatkan penurunan permintaan ruang kantor dan fasilitas komersial lainnya.

Pembatasan sosial, penutupan bisnis, dan kekhawatiran akan penularan virus telah menghambat aktivitas penjualan dan pembelian properti. Banyak calon pembeli yang mengurungkan niatnya untuk membeli properti karena ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran akan kemampuan membayar cicilan atau sewa. Hal ini mengakibatkan penurunan jumlah penjualan properti dan transaksi sewa di wilayah tersebut.

2. Penurunan Harga Properti

Dampak selanjutnya adalah penurunan harga properti. Permintaan yang menurun seiring dengan penurunan aktivitas transaksi telah mendorong penurunan harga properti secara keseluruhan. Banyak pemilik properti yang terpaksa menurunkan harga jual atau harga sewa agar dapat menarik minat pembeli atau penyewa potensial. Namun, penurunan harga ini tidak merata di semua kategori properti. Properti komersial seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, dan hotel mengalami penurunan harga yang lebih signifikan dibandingkan dengan properti residensial.

3. Perubahan Preferensi Konsumen

Selama pandemi COVID-19, preferensi konsumen dalam mencari properti juga mengalami perubahan. Faktor kesehatan dan keamanan menjadi prioritas utama bagi calon pembeli atau penyewa. Mereka cenderung mencari properti yang lebih luas, dengan fasilitas kebersihan yang baik, seperti hunian dengan taman atau area hijau yang memadai. Permintaan terhadap rumah dengan halaman dan area terbuka meningkat signifikan, karena orang lebih cenderung menginginkan ruang ekstra untuk beraktivitas di dalam rumah tanpa harus meninggalkan rumah.

4. Perubahan Pola Kerja dan Perkembangan Properti Komersial

Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi pola kerja secara global. Banyak perusahaan yang beralih ke model kerja jarak jauh atau work-from-home. Hal ini berdampak pada properti komersial di Jabodetabek, terutama perkantoran. Permintaan sewa ruang kantor menurun drastis karena banyak perusahaan mengurangi ruang kantor atau bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja. Beberapa perusahaan juga mengubah ruang kantor mereka menjadi coworking space atau ruang fleksibel untuk mengakomodasi kebutuhan kerja yang berubah.

prospek pasar real estat

Faktor-Faktor Pemulihan dan Prospek Pasar Real Estat Pasca-Pandemi

Pemerintah Indonesia menyadari dampak pandemi COVID-19 terhadap pasar real estat dan telah mengambil beberapa langkah untuk mengurangi dampak negatifnya. Beberapa kebijakan yang diterapkan antara lain relaksasi kredit perumahan, pembebasan pajak, dan insentif investasi. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mendorong pemulihan pasar real estat dan mendorong minat pembeli atau investor.

1. Rendahnya suku bunga hipotek

Otoritas keuangan di banyak negara, termasuk Indonesia mengambil langkah-langkah untuk menurunkan suku bunga hipotek sebagai stimulus ekonomi selama pandemi. Suku bunga rendah ini membuat kepemilikan rumah lebih terjangkau dan mendorong banyak orang untuk membeli properti.

2. Perubahan gaya hidup dan bekerja

Pandemi COVID-19 telah mengubah gaya hidup dan bekerja secara signifikan. Banyak perusahaan menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau fleksibilitas kerja yang lebih besar. Hal ini mendorong banyak individu untuk mencari hunian yang lebih luas dan nyaman untuk keperluan kerja dan gaya hidup yang lebih seimbang.

3. Pertumbuhan pasar properti komersial

Meskipun pasar real estat komersial mungkin menghadapi tantangan, ada juga peluang pertumbuhan yang signifikan. Pandemi telah mendorong perusahaan untuk mencari solusi kreatif dalam menyediakan ruang kerja yang aman dan fleksibel. Co-working space, ruang fleksibel, dan konsep properti komersial lainnya dapat mengalami pertumbuhan yang pesat di era pasca-pandemi.

4. Perubahan pola migrasi dan urbanisasi

Pandemi telah mengubah pola migrasi dan urbanisasi di berbagai negara. Banyak orang yang memilih untuk tinggal di pinggiran kota atau daerah pedesaan yang lebih terpencil, mengingat fleksibilitas bekerja dari rumah. Ini berpotensi meningkatkan permintaan dan nilai properti di daerah-daerah tersebut.

5. Teknologi dan digitalisasi

Pandemi COVID-19 telah mempercepat adopsi teknologi dan digitalisasi di pasar real estat. Banyak agen properti dan platform online telah beradaptasi untuk memberikan pengalaman virtual dan transaksi digital. Ini memungkinkan pembeli dan penjual untuk melanjutkan aktivitas mereka secara efisien tanpa harus bertatap muka.

Pertimbangan untuk Membeli Rumah

Membeli rumah merupakan salah satu transaksi paling mahal yang biasanya dilakukan oleh seseorang. Hal ini memerlukan persiapan keuangan yang matang dan komitmen untuk membayar dengan tepat waktu. Oleh karena itu, sebelum Anda mengajukan permohonan hipotek, sangat penting untuk mengevaluasi kelayakan keuangan Anda dan sejauh mana kemampuan Anda dalam membayar.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa memperoleh hipotek.

1.Kelayakan Keuangan

Sebelum mengajukan hipotek, penting untuk menilai kelayakan keuangan Anda. Hal ini melibatkan pengecekan pendapatan Anda, termasuk penghasilan tetap, bonus, atau penghasilan tambahan lainnya. Bank atau lembaga keuangan akan melihat apakah penghasilan Anda mencukupi untuk membayar cicilan hipotek secara rutin.

Selain itu, bank juga akan mempertimbangkan hutang lain yang Anda miliki, seperti cicilan kendaraan atau hutang kartu kredit. Hal ini dikarenakan bank ingin memastikan bahwa Anda tidak akan terbebani dengan cicilan hipotek yang terlalu tinggi dibandingkan dengan penghasilan Anda.

2. Skor Kredit

Skor kredit Anda juga akan menjadi faktor penentu dalam kelayakan Anda untuk mendapatkan hipotek. Bank akan melihat riwayat kredit Anda, termasuk apakah Anda memiliki riwayat pembayaran yang baik atau pernah melewatkan pembayaran. Semakin baik skor kredit Anda, semakin tinggi kemungkinan Anda mendapatkan suku bunga hipotek yang lebih rendah.

Jika Anda memiliki masalah kredit, seperti riwayat pembayaran yang buruk atau terlalu banyak hutang, ini dapat menghambat kemampuan Anda untuk mendapatkan hipotek atau mengakibatkan suku bunga yang lebih tinggi.

3. Rasio Utang Terhadap Pendapatan

Rasio utang terhadap pendapatan adalah perbandingan antara jumlah utang yang Anda miliki dengan pendapatan bulanan Anda. Bank akan melihat rasio ini untuk menilai sejauh mana Anda mampu membayar cicilan hipotek.

Umumnya, bank akan menginginkan rasio utang terhadap pendapatan yang rendah, biasanya di bawah 40%. Jika rasio ini terlalu tinggi, bank mungkin akan menganggap Anda memiliki beban utang yang terlalu besar dan kelayakan Anda untuk mendapatkan hipotek bisa menjadi lebih sulit.

4. Uang Muka

Uang muka merupakan sejumlah uang yang harus Anda bayarkan di muka sebagai bagian dari pembelian rumah. Besarannya dapat bervariasi, tetapi umumnya berkisar antara 10% hingga 20% dari harga rumah. Uang muka ini merupakan tanda keseriusan Anda sebagai pembeli dan juga membantu mengurangi jumlah hipotek yang perlu Anda ambil.

Memiliki uang muka yang lebih besar dapat memberikan manfaat tambahan, seperti suku bunga yang lebih rendah atau pembayaran bulanan yang lebih kecil. Oleh karena itu, penting untuk mempersiapkan uang muka yang mencukupi sebelum mengajukan hipotek.

5. Biaya-Biaya Utama

Selain cicilan hipotek, ada juga biaya-biaya utama lainnya yang perlu Anda pertimbangkan sebelum mengambil hipotek. Biaya-biaya tersebut meliputi biaya notaris, biaya penilaian rumah, biaya administrasi, dan biaya asuransi hipotek.

Semua biaya ini harus dihitung dalam perencanaan keuangan Anda sehingga Anda memiliki gambaran yang lebih jelas tentang berapa total biaya yang akan Anda tanggung ketika membeli rumah dengan hipotek.

6. Gunakan Kalkulator Hipotik

Sebelum Anda membeli rumah, penting untuk mengevaluasi keterjangkauan keuangan Anda. Salah satu cara yang berguna untuk melakukannya adalah dengan menggunakan kalkulator hipotek Mortgage Calculator yang dapat membantu Anda menghitung perkiraan pembayaran bulanan dan menentukan sejauh mana Anda mampu membeli rumah.

mortgage calculator

Kami merekomendasikan menggunakan kalkulator hipotek dan alat bantu lainnya yang tersedia di situs web https://www.mortgagecalculator.uk/. Situs ini menyediakan berbagai alat yang berguna untuk menentukan kelayakan keuangan Anda dalam membeli rumah.

Anda dapat mengakses kalkulator hipotek ini dengan mengunjungi situs web yang disebutkan di atas. Setelah itu, Anda akan diminta untuk memasukkan beberapa informasi, seperti pendapatan bulanan Anda, jumlah pinjaman yang diinginkan, suku bunga, dan jangka waktu pinjaman.

Dengan memasukkan informasi ini, kalkulator akan menghasilkan perkiraan pembayaran bulanan Anda serta memberikan informasi tentang sejauh mana pembayaran ini cocok dengan pendapatan dan anggaran Anda. Ini akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang keterjangkauan keuangan Anda dan membantu Anda membuat keputusan yang lebih baik dalam membeli rumah.

 

COVID-19 dan Dampaknya pada Pasar Real Estat di Indonesia

Lentera Kecil

Media online sarana pembelajaran pendidikan dan pengetahuan informatif, inspiratif dan edukatif

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *