Inspirasi

Kisah Tanggung Jawab Tugas dari seorang Brigadir Polisi

Banyak kisah atau kejadian yang dapat menjadi inspirasi sebuah sikap tanggung jawab dan setia. Kesetiaan bukan hanya untuk hubungan antar manusia dengan harmonis, akan tetapi berlaku juga untuk sebuah pengabdian, pekerjaan.

Kejadian ini merupakan cerita lama yang ditulis di kompasiana oleh Aryadi Noersaid 25 Juni 2011 tentang Polisi yang berani menilang Pejabat utama pemerintah yaitu Sri Sultan HB IX sekitar pertengahan tahun 1960-an. Kisah ini nyata dan telah ditelusuri kebenarannya oleh salah satu media. Kisah kejadian luar biasa dan sangat jarang terjadi serta dapat sebagai salah satu bentuk wujud sebuah kesetiaan dan tanggung jawab terhadap tugas.

Tanggung Jawab Tugas Brigadir Polisi
image: .detik.com

Tanggung Jawab Tugas Seorang Brigadir Polisi 

Pukul 5.30 pagi, di persimpangan Bangkong, Semarang, ibukota propinsi Jawa Tengah, lalu lintas mulai ramai dengan di dominasi delman dan becak. Brigadir Polisi  Royadin berdiri di tepi posnya dengan gagah untuk menjalankan tugas untuk mengatur lalu lintas.

Tiba-tiba, dari jauh terlihat sebuah mobil sedan hitam melaju melawan arus. Karena melanggar aturan dan bisa membahayakan pengguna jalan, Brigadir Royadin dengan sigap menghentikan laju sedan hitam tahun 50-an ber plat AB (Nopol Yogya) yang jarang berlalu di jalanan Semarang.

Saat sedan menepi, Royadin menuju sisi pengemudi dan memberi hormat dengan sikap sempurna. Ia lantas meminta rebuwes (SIM) serta surat mobil.

Perlahan, pengemudi menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pengemudi seorang pria pria berusia sekitar setengah abad.

Brigadir Royadin terkejut bukan kepalang setelah tahu siapa pria pengemudi sedan hitam tersebut. Ternyata beliau adalah Sultan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Orang nomer satu di Jogja dan seorang Raja (Sultan) berkendara sendiri tanpa sopir, ajudan dan pengawalan.

Meski dengan melawan rasa gemetar dan gugup, kesetiaan pada sumpah janji saat menjadi Polisi tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melanggar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !”

Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden (dilarang masuk) di ujung jalan, namun Sri Sultan menolak.

Sinuwun Sri Sultan turun dari mobilnyanya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“Ya, saya yang salah, kamu benar, saya pasti salah! Baik..brigadir, kamu buatkan surat tilang, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal!”

Dengan tangan bergetar Royadin membuatkan surat tilang, dan berharap Sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi dan agar tidak memberikan surat itu. Namun, tidak sepatah kata pun yang keluar dari Sinuwun untuk menggunakan kekuasaannya atau paling tidak bernegosiasi. Bahkan, mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Raja pun beliau tidak lakukan..

Keesokan harinya, kegemparan terjadi di ruang komisaris Polisi. Royadin dimarahi habis-habisan oleh komandannya. Tapi Brigadir Royadin bersikukuh hanya menjalankan peraturan dan pasrah. Apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja.

Tak lama berselang, Sri Sultan HB IX berkirim surat bertuliskan tangan yang intinya menyebutkan:

“Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.”

Namun kembali tanggung jawab dan kesetiaannya diuji. Sulit untuk menolak permintaan Sultan HB IX namun juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya beserta keluarganya yang sudah lama tinggal di kota ini.

Royadin tidak ingin tugas dan kewajibannya ini menjadi sebuah prestasi. Di sisi lain, Royadin tidak memahami betapa luasnya hati Sultan HB IX dengan memberi penghargaan tinggi yang telah menjadi korban ketegasannya.

Royadin lahir di Batang, 1 Desember 1926. bertugas sebagai polisi selama 21 tahun 1 bulan, pensiun sebagai Kapolsek Warungasem, Batang dengan pangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu). Royidan wafat 14 Februari 2007, dalam usia ke 81 tahun dan dimakamkan di di Kepuh, Priyonanggan Tengah, Batang. (sumber: http://jogja.tribunnews.com/)

Royadin di mata keluarga

Di mata keluarga, Royadin adalah sosok ayah yang sederhana dan bersahaja. Hidupnya lurus tidak pernah berbuat macam-macam. Tidak terlalu keras ataupun lembut dan tidak pernah melihat berkeluh kesah. Idealisme sebagai polisi tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya meski pangkat sedikit bergeser karena terbelenggu kesetiaan yang selalu dipegangnya erat yaitu ketegasan dan kejujuran.

Kisah tanggung jawab dan kesetiaan tugas seorang Brigadir Polisi ini tidak bosan saya baca. Kejadian nyata yang mungkin jarang terjadi dan hampir-hampir tidak ditemukan pada saat ini. Meski terlihat konyol, namun dibalik itu idealisme tugas dengan ketegasan dan kejujuran serta setia dengan janji, setia dengan sumpah dan setia terhadap keluarga dan tugas bisa menjadi kebanggaan sampai akhir hayat.

Royadin, Polisi sejati dan keluasan hati Sultan Hamengku Buwono IX merupakan sikap pahlawan sejati dan bisa menjadi inspirasi bagi kita semua tentang tanggung jawab dan setia pada janji dan kepatuhan tugas.

 

Kisah Tanggung Jawab Tugas dari seorang Brigadir Polisi

Loading...
loading...

Lentera kecil media online sarana pembelajaran pendidikan yang informatif, inspiratif dan edukatif

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *