
Banyak orang mengenal sejarah penjajahan Belanda, Inggris, dan Jepang di Indonesia. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa pada awal abad ke-19, Pulau Jawa juga pernah berada di bawah kendali Perancis di masa Kaisar Napoleon Bonaparte. Meski penguasaannya singkat dan tidak sepopuler masa kolonial bangsa lain, jejak sejarah ini tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Nusantara.
Latar Belakang: Kekalahan Belanda dan Ekspansi Napoleon
Pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, Eropa dilanda perang besar yang dikenal sebagai Perang Napoleon. Konflik ini mempertemukan Perancis, yang dipimpin oleh Kaisar Napoleon Bonaparte, melawan koalisi negara-negara Eropa seperti Inggris, Rusia, dan Prusia.
Belanda, yang saat itu menjadi sekutu Perancis melalui pembentukan Republik Batavia (1795) dan kemudian Kerajaan Holland di bawah Louis Bonaparte (adik Napoleon), mengalami kekalahan dari Inggris di berbagai medan perang. Akibatnya, wilayah jajahan Belanda otomatis jatuh ke tangan Perancis, termasuk Hindia Belanda atau Nusantara.
Herman Willem Daendels Perwira Kepercayaan Napoleon di Jawa
Meski berada di bawah kekuasaan Perancis, Pulau Jawa tetap dikelola oleh pejabat Belanda. Pada tahun 1808, Kaisar Napoleon menugaskan Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Daendels dikenal sebagai administrator yang tegas dan visioner, namun juga keras dan otoriter.
Salah satu proyek monumentalnya adalah Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer hingga Panarukan sejauh lebih dari 1.000 kilometer. Jalan ini dibangun untuk memperlancar komunikasi dan mobilisasi pasukan, namun dikerjakan dengan kerja paksa yang memakan banyak korban.
Perang di Pulau Jawa Tahun 1811
Ketegangan global akhirnya merembet ke Nusantara. Pada Agustus 1811, Inggris yang saat itu mendominasi lautan mengirim ekspedisi besar untuk merebut Jawa.
Saat itu, posisi Gubernur Jenderal dipegang oleh Jan Willem Janssens, yang menggantikan Daendels pada 1811. Inggris mengerahkan sekitar 12.000 pasukan yang datang dari Madras, India, menggunakan lebih dari 100 kapal perang. Mereka mendarat di Cilincing dan mulai bergerak ke Batavia.
Di pihak pertahanan, pasukan gabungan Perancis, Belanda, dan prajurit Jawa berjumlah sekitar 6.000 orang. Pertempuran besar terjadi di beberapa titik penting, seperti:
- Pulau Onrust di Kepulauan Seribu
- Batavia (Weltevreden)
- Meester Cornelis (kini Jatinegara)
- Jatingaleh, Semarang
Sayangnya, Janssens bukan ahli strategi perang yang ulung. Dalam waktu singkat, pasukan Perancis-Belanda-Jawa mengalami kekalahan telak. Inggris, di bawah komando Jenderal Samuel Auchmuty, berhasil menguasai Jawa pada 18 September 1811.
Benteng Napoleon di Jatinegara
Salah satu peninggalan era ini adalah Benteng Napoleon yang dahulu berdiri di Pasar Lama, Jatinegara, sebagai pertahanan terakhir Hindia Belanda di Batavia. Saat ini, benteng tersebut sudah tidak ada, namun masih tersisa sedikit jejak berupa parit selebar 4 meter dan kedalaman 3 meter di kawasan Jalan Palmeriam 2, Jakarta Pusat (belakang Jalan Matraman). Parit ini diyakini dibangun pada masa Daendels sebagai bagian dari strategi pertahanan.
Penutup
Penguasaan Perancis atas Pulau Jawa hanya berlangsung singkat, dari 1808 hingga 1811, namun meninggalkan warisan fisik dan administratif yang berpengaruh. Proyek-proyek infrastruktur seperti Jalan Raya Pos menjadi bukti ambisi modernisasi Daendels, sementara peristiwa jatuhnya Jawa ke tangan Inggris menandai babak baru dalam sejarah kolonialisme di Nusantara.
Meski tidak seterkenal penjajahan Belanda atau Jepang, masa kekuasaan Perancis ini tetap menjadi bagian penting dari mosaik sejarah Indonesia yang layak untuk dikenang dan dipelajari.
Referensi: Komunitas Historia Indonesia
Perang Napoleon pernah terjadi di P. Jawa – Lentera Kecil