Pendidikan

Konsep Kerja Sama Pendidikan Perguruan Tinggi dan Industri

Pendidikan bermutu membutuhkan proses pembelajaran yang berstandar dan diselenggarakan secara berkesinambungan dan sistematis. Proses pembelajaran yang berstandar akan membawa peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya untuk memiliki kekuatan agama, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan dan kecakapan hidup untuk meningkatkan nilai tambah bagi diri dan masyarakatnya.

Oleh karena itu, kata pendidikan saja tidak cukup untuk membangun sumber keunggulan, tetapi membutuhkan predikat yang bermutu, sehingga pendidikan yang bermutulah yang menentukan arah keberhasilan membangun manusia yang unggul. Mempersiapkan manusia unggul berarti mempersiapkan sumber daya manusia sejak usia sekolah.

Pendidikan Perguruan Tinggi dan Industri

Kerjasama Pendidikan Perguruan Tinggi dan Industri

Pembangunan kualitas sumber daya manusia merupakan proses jangka panjang. Ia harus dimulai sejak dini warga negara masih menapaki jenjang pendidikan asar hingga merajut ke jenjang pendidikan menengah dan memperdalamnya di jenjang pendidikan tinggi.

Berdasarkan skala jenjang pendidikan, maka penyiapan jenjang pendidikan menengah sangat penting dalam pembentukan calon-calon angkatan kerja yang handal. Pengembangan kualitas sumber daya manusia antara jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi merupakan tahap terpenting dalam pembentukan keterampilan dan kemampuan manusia. Inilah penting Pendidikan Vokasi.

Sanjay Lal (1995:34-39) menemukan bahwa pendidikan menengah sangat menentukan kemana arah lulusannya setelah itu ke dalam pasar kerja. Daya serap pasar kerja sangat ditentukan oleh kemampuan yang dibentuk semasa menempuh pendidikan menengah. Pendidikan tinggi akan semakin menempati titik pentingnya ketika pengetahuan dan keterampilan memerlukan penajaman pengalaman teknis yang lebih terarah.

Beberapa bentuk kerja sama pendidikan antara perguruan tinggi dan industri pada dasarnya dapat diikuti oleh munculnya universitas perusahaan (corporate university) di tahun 1960- an di Amerika Serikat. Universitas perusahaan merupakan kepanjangan tangan atau di sponsori perusahaan tertentu untuk menjalankan misi perusahaan induknya, yaitu menjalankan penelitian dan pengembangan dan menyediakan tenaga kerja bermutu yang dibutuhkan perusahaan/industri . Bentuk-bentuk kerja samanya pada awalnya lebih bersifat kebutuhan dibandingkan keilmuan semata.

Konsep Kerja Sama

Konsep kerja sama pendidikan antara perguruan tinggi dan industri mempunyai karakteristik sebagai berikut.

1. Lembaga pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi menjadi pusat keunggulan (center of excellent).

Lembaga penyelenggara meliputi satu unit lembaga perguruan tinggi yang mempunyai pusat-pusat pelatihan keunggulan (training center) yang menyebar di beberapa tempat. Konsep ini digagas oleh Bockelmann (2001). Penyebaran pusat-pusat keunggulan dilakukan dengan pertimbangan bahwa potensi pasar kerja bukan berada di satu tempat saja, namun berada di beberapa tempat.8 Pusat keunggulan merupakan pusat pelatihan yang memanfaatkan teknologi tinggi. Teknologi tinggi yang diadopsikan harus teknologi yang dapat menjadikan para mahasiswa berlatih dan membiasakan diri melakukan proses produksi yang memanfaatkan tingkat akurasi tinggi.

Lembaga penyelenggara harus mempertimbangkan keuntungan dari jasa pelatihan yang diberikan. Untuk itu lembaga penyelenggara harus mempertimbangkan bahwa:

  1. pelatihan dilakukan sesuai permintaan dan relevan dengan kompetensinya;
  2. meningkatkan kualitas pekerja dan pekerjaan mandiri;
  3. memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang kurang mampu;
  4. menyediakan investasi dan biaya operasional untuk ruang kelas, ruang kantor, dan perabotannya.

2 Bidang kerjasama harus spesifik.

Gert W. Thoma (2000) mengatakan bahwa lembaga penyelenggara harus menjalin kerjasama dengan dunia industri (pabrikan) dalam bentuk proyek percontohan, dimana lembaga penyelenggara (perguruan tinggi) dan industri melakukan:

  1. penilaian kualitas produk, diversifikasi produk, perbaikan proses produksi dan bahkan mendukung dalam pemasaran. Mahasiswa akan dilibatkan dalam proses ini;
  2. sub-kontrak dengan industri untuk melakukan proses produksi;
  3. menerapkan penelitian dan pengembangan yang melibatkan mahasiswa.

Oleh karena itu, bidang kerjasama antara perguruan tinggi penyelenggara dan lembaga mitranya (perguruan tinggi luar negeri) harus spesifik, misalnya bidang mekatronik, mesin mobil, elektronika, atau furniture.

3. Sertifikasi berstandard internasional.

Lulusan pendidikan tinggi didik untuk memenuhi kualifikasi sarjana yang bersertifikat dengan standard internasional yang diakui dan dibutuhkan dunia industri. Meyer (2000) mengatakan bahwa untuk itu diperlukan pelatihan bagi para mahasiswa dengan standard minimal pendidikan seperti:

  1. kemampuan manajemen organisasi, komunikasi, dan pemasaran;
  2. mengikuti pelatihan bersertifikasi ISO (seperti ISO 9000, 9001, 9002, dan 14000);
  3. memaksa pemerintah untuk membebaskan lembaga penyelenggara dalam negeri dari beberapa persyaratan yang membatasi ruang gerak pengelolaan keuangan internal.

4. Para pihak yang terlibat dalam kerjasama harus menyusun rencana bisnis (bussiness plan).

Status kerjasama semua pihak harus sudah jelas dan dibuatkan akta perjanjian kerjasamanya. Perguruan tinggi akan bertindak sebagai lembaga pembina. Sementara itu lembaga binaan industri yang merupakan kepanjangan tangan dari kebutuhan industri akan bertindak sebagai tempat pelatihan yang berperan melakukan pelatihan proses produksi. Dengan adanya rencana bisnis maka perguruan tinggi diajak berpikir lebih realitas tentang rencana kerja mereka yang harus dimanajemeni dengan baik.

5. Fasilitasi untuk berwirausaha.

Bentuk keterampilan yang disediakan oleh lembaga penyelenggara perlu mempertimbangkan kebutuhan industri kecil-menengah. Sektor ini merupakan sektor yang mampu mendorong peningkatan pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah. Kebutuhan industri kecil-menengah difokuskan sesuai tingkat keahlian untuk tenaga kerja industri skala tersebut, memberikan jasa konsultasi dan pelayanan dalam bidang teknologi dan administrasi bisnis dalam skala tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar mahasiswa lulusannya selain dijamin memasuki pasar kerja juga mempunyai kemampuan mendirikan sendiri usaha mereka apabila mereka memilih wirausaha sendiri.

Tujuan dan Manfaat Kerja sama

Tujuan kerja sama pendidikan antara pendidikan tinggi dan industri/perusahaan merupakan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kapasitas manusia  dalam pembangunan dan sekaligus merupakan cara terbaik untuk memutus persoalan pembangunan.

Selain itu, bangsa yang unggul ditandai oleh kehadiran industri/ perusahaan multinasional yang mempunyai daya saing global. Oleh karena itu, kerja sama pendidikan antara pendidikan tinggi dan industri/perusahaan yang terbaik adalah ditujukan untuk mencetak angkatan kerja yang dapat mengisi kebutuhan industri/perusahaan.

Berkenaan dengan hal tersebut, perlunya mengajak dunia perguruan tinggi untuk melakukan kerja sama pendidikan dengan industri/ perusahaan. Dengan “memaksa” melakukan kerja sama pendidikan, maka penyelenggara perguruan tinggi akan memperoleh manfaat, antara lain:

  1. Perguruan tinggi akan memperbaiki manajemen pendidikan mereka agar go-industrial society dan bahkan go international untuk menjadikan manajemen mereka lebih baik, ditinjau dari pengelolaan akademis, pendidikan mahasiswa, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, perguruan tinggi akan lebih efektif menyelenggarakan proses pendidikan yang berguna.
  2. Kerja sama pendidikan antara perguruan tinggi dan industri akan menjadikan perguruan tinggi lebih mandiri. Apa yang disediakan perguruan tinggi pun akan menemukan titik temunya dengan kebutuhan industri/perusahaan. Perguruan tinggi akan dengan leluasa mengembangkan penelitian dan pendidikan, sementara itu industri akan memperoleh manfaat yang diperlukannya dari perguruan tinggi baik dalam bentuk hasil penelitian maupun penyediaan tenaga kerja yang berkuallifikasi.
  3. Konsep Tri Darma Perguruan Tinggi, pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan setali tiga uang sekaligus apabila kerja sama pendidikan antara perguruan tinggi dan industri/perusahaan dapat diwujudkan secara efektif. Kerja sama pendidikan harus berada dalam tiga area itu.
  4. Saat ini telah berkembang revolusi Industri 4.0

 

Referensi

  • Sanjay Lal, Industrialisasi di Asia Tenggara: Indonesia, Malaysia, dan Thailand, New York: UNIDO, 1995
  • Gert W. Thoma, Indonesian-German Programme on Economic and Human Resource Development, Jakarta: GTZ, 2000.
  • Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi Juli 2008, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

 

Konsep Kerja Sama Pendidikan Perguruan Tinggi dan Industri

Loading...
loading...

Lentera kecil media online sarana pembelajaran pendidikan yang informatif, inspiratif dan edukatif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *